Seperti yang ku ceritakan sebelumnya, di Dulles Airport kami disambut oleh seorang koordinator dari CCID. Pria Amerika berkebangsaan Pakistan ini bersikap sangat ramah dan bersahabat, sampai-sampai membuat Jazzy (scholar dari Bogor) merasakan panah-panah asmara, ya amppyuuunnn….
Sebenarnya pesawat kami sudah mendarat sejak pukul 4 sore waktu DC, tapi karena harus mengantri sedemikian lama di immigration entry plus interview untuk the boys, akhirnya kami baru bisa meninggalkan Dulles sekitar jam 8 malam. Meskipun demikian, langit masih terlihat terang benderang seperti baru jam 3 sore. Katanya itu disebabkan karena di Amerika saat ini masih summer time. Perut kami sudah terasa keroncongan, untunglah Mr. Ammad Sheikh yang baik hati dan luhur budinya itu mentraktir kami makan di salah satu restaurant di Dulles.
Perjalanan yang kami tempuh dari Dulles ke tempat penginapan sekaligus orientasi tidak terlalu lama, tapi kami sangat menikmati saat-saat pertama di Amerika. Ternyata di Washington, DC masih banyak juga hutan belantara dengan pohon-pohon besar yang mengapit di pinggir jalan raya. Kami melewati coffee shop dan beberapa mini stores yang menjual beraneka ragam kebutuhan. Tak terasa perjalanan kami berakhir di sebuah pekarangan luas, dengan papan bertuliskan “National 4H Conference Center.”
Tempat ini semacam pusat kegiatan youth. Bukan hanya CCID saja yang mengadakan kegiatan di situ, tapi juga berbagai macam organisasi pemuda, bahkan dari Baptist Church. Setelah memperoleh folder yang berisi tiket, room key, dan bahan-bahan orientasi, plus uang jajan (yang terakhir ini yang paling penting dan teramat sangat mengecewakan karena kami berharap akan diberikan uang dalam jumlah yang hampir sama dengan yang kami terima dari AMINEF), kami memasuki gedung yang katanya adalah tempat untuk kami menginap selama di DC. Awalnya kami bingung, karena nomor kamar yang akan kami tempati tidak tertera di papan penunjuk.
Untunglah para koordinator kami sangat berbaik hati dengan sesegera mungkin menanyakan ke loby, di mana letak kamar kami yang sebenarnya. Untuk para pria, kamar mereka terletak di gedung yang berbeda. Sedangkan kami, gadis-gadis yang manis, ternyata kami harus melewati cafetaria untuk mencapai kamar kami di bagian belakang gedung. Celakanya, wanita berkulit hitam yang menguasai daerah cafetaria itu menjadi sangat marah ketika melihat kami masuk melewati cafetaria yang sudah dibersihkan. Katanya mereka sudah tutup, karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Permintaan maaf dari Ammad pun tidak digubrisnya. Kami segera buru-buru berlalu menuju kamar, tidak ingin mendengar omelan wanita perkasa itu lebih lama lagi.
Margi dan Jazzy menempati kamar yang sama di 5103, sedangkan aku sendiri mendapatkan kamar 5106. Dengan tingkat kebingungan yang cukup tinggi aku mulai mempelajari kamar yang disediakan untuk ku tempati. Ternyata kamarku lumayan nyaman dengan kasur pegas, karpet, kursi dan meja makan, telepon, lemari dan kamar mandi yang menyediakan air panas. Sebenarnya fasilitas yang tersedia hampir sama dengan hotel berbintang, bahkan jauh lebih baik daripada hotel di Jakarta yang diberikan AMINEF untuk ku tempati sebelum ke Amerika. Satu-satunya yang tidak ku sukai adalah jumlah tempat tidur yang tersedia di situ adalah 4 buah. It means aku mungkin harus berbagi kamar dengan 3 orang lain yang benar-benar asing untukku. Untunglah kamar ini benar-benar luas luar biasa, bahkan kamarku adalah yang terbesar dibanding teman-temanku yang lain. Kamarku berukuran 2 kali lebih besar dibanding kamar mereka, yang juga memuat 4 orang.
Sebagai penghuni pertama, aku mendapatkan kehormatan untuk memilih tempat tidur yang paling nyaman. Dan aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera mengambil tempat tidur di pojok ruangan yang letaknya tersendiri dan terlindungi privasinya. Ku rasa para room-mates ku sangat iri dengan my privilege.
Badanku benar-benar sudah mati rasa setelah terbang lebih dari 24 jam. Aku hanya sanggup mandi dengan air hangat, kemudian segera meloncat ke tempat tidurku yang rasanya empuk bukan main. Rasanya aku baru terlelap sebentar ketika terdengar ketukan yang memaksa di pintu kamarku. Dengan rambut awut-awutan dan mata mengantuk aku membuka pintu dan mendapati segerombolan manusia asing. Seorang wanita berkerudung dengan aksen asing bergegas masuk. Aku hanya melontarkan pertanyaan singkat,
“Will you stay in this room?”
Ia menyahut, “Yes!”
Aku hanya mengangguk membiarkan ia dan teman-temannya berulah. Tanpa beramah-tamah lagi, aku kembali ke tempat tidur dan melanjutkan mimpiku bermesraan dengan Keanu Reeves.

wakkakakaka…..pengalamnnya seru banget yah mba.. jadi pengen
Hehehe… makanya buruan ke sini, Li! You will when you believe (koq jadi kayak lagu ya :-p )