Orientasi terakhir di DC aku kembali menyantap sarapanku dengan nikmat. Hari ini jadwal kami penuh dengan orientasi, diakhiri dengan persiapan untuk keberangkatan kami ke kampus masing-masing.
Aku dan Margi saling curhat tentang suatu hal yang sangat mengganggu kami. Ku pikir hanya aku sendiri yang merasakannya, tapi ternyata Margi juga mengalami hal yang sama. Kami merasa sangat risih dengan perlakuan beberapa pria Mesir di sini yang sepertinya agak hyper. Mereka kerap mengejar-ngejar kami, dan yang paling menyebalkan adalah kebiasaan mereka sebagai pria ‘RAMAH’ (rajin menjamah). Meskipun hanya mengobrol biasa, bisa saja tahu-tahu mereka merangkul atau menyentuh tangan kami. Untunglah ada Andy, Tommy dan Icus, teman-teman cowok kami dari Indonesia. Dengan sukarela mereka mau berpura-pura menjadi pacar kami, untuk menjaga supaya para pria timur tengah yang hyper itu tidak mengganggu kami. Tapi pria-pria sinting itu tetap saja berusaha mendekati kami, OMG!!! Hanya Jazzy saja yang sangat menikmati menjadi Kembang Mesir, dipuja-puja para pria timur tengah.
Orientasi hari ini terasa sangat membosankan. Materi yang mereka berikan sebagian besar sudah kami terima waktu orientasi di Indonesia. Dan parahnya para mahasiswa dari Mesir itu banyak pula mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang diulang-ulang, mungkin karena sebagian besar dari mereka tidak begitu fasih berbahasa Inggris.
Sebenarnya malam ini kami dijadwalkan untuk menonton bersama pembukaan Olympiade Beijing, tapi aku dan Margi memutuskan untuk berpetualang sendiri di sekitar Chevy Chase. Masih banyak tempat-tempat eksotis yang belum kami kunjungi. Kami berfoto di Chevy Chase United Methodist, sebuah gereja yang terletak sangat dekat dengan tempat orientasi kami. Kami melihat-lihat kompleks perumahan elit di Chevy Chase yang sangat indah. Aku begitu terpukau dengan daerah ini, sampai-sampai aku berdoa dan bertekad dalam hati bahwa suatu hari nanti aku akan punya rumah di Chevy Chase, Maryland. Amin!!!
Kami kembali ke 4H Conference sudah lewat jam 9 malam, tapi langit masih terlihat cukup terang. Kami menonton sebentar pembukaan Olympiade kemudian kembali ke kamar masing-masing. Karena penerbanganku adalah yang paling pagi (5 a.m.), mengharuskan kami siap di loby pada pukul 2 pagi. Aku dan Howida (flight-nya berbeda denganku tapi pada waktu keberangkatan yang sama) memutuskan untuk begadang sampai waktu keberangkatan kami. Margi yang merasa bosan berada di kamarnya memilih tidur-tiduran di kamarku, mendampingiku dengan terus mengobrol. Saat-saat yang mengharukan ketika berpisah dengan Mervat. Wanita Mesir yang satu ini sampai menangis dan meminta kami untuk tidak membangunkannya pada saat kepergian kami karena itu hanya akan membuatnya menangis lagi.
Jam 3 pagi aku mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman seperjalananku dari Indonesia (kecuali Jazzy, dia kecapekan setelah kencan semalam). Aku dan Margi berpelukan sebagai tanda simpati sekaligus ucapan selamat berjuang. Aku melompat ke van yang membawaku ke Baltimore Airport, di mana Continental Airlines telah menanti untuk membawaku ke California melalui Houston, Texas.



wah kok agak berbau rasis ya hehehehe, but it happends!!
Hehehe…. I just told the truth, didn’t I?