Hari kedua aku di Washington, DC, kami mulai mengikuti orientasi tentang US Arrival. Jadwal hari ini sangat menarik, karena pada jam 11 siang nanti, kami akan tour keliling DC. Dengan tidak sabar kami menunggu sampai akhirnya kami dibagi menjadi 4 group menuju 4 bis yang tersedia. Agar tidak membuang waktu, pihak CCID sudah menyediakan lunch packet yang bisa kami nikmati selama perjalanan.
Aku agak was-was karena langit terlihat mendung. Tapi untunglah gerimis mengundang hanya menetes sebentar saja dan tidak mengganggu acara pesiar kami. Sambil menunggu bis kami keluar dari pekarangan 4H Conference, aku mulai memakan jatah makan siangku. Alamaaakkk…. rasanya aneh, sandwich keju dan turkey wueeekkk…. aku ingin muntah rasanya. Sudah sejak dalam pesawat United Airlines, aku mulai merasakan kangen dengan makanan Indonesia. Dan sekarang, dengan menu western yang benar-benar khas ini membuatku muak bukan main. Aku membayangkan nikmatnya pecel lele, lalapan dan sambel terasi, atau mungkin nasi Padang dengan es teh. Air liurku menetes hanya dengan membayangkannya saja.
Tujuan pertama kami adalah Arlington National Cemetery. Sesuai dengan namanya, tempat yang kami kunjungi ini adalah benar-benar kuburan. Arlington adalah taman makam pahlawan-nya Amerika. Berbagai macam pahlawan dari berbagai era, baik Civil War, World War I & II, Korean War, Vietnam War semuanya ada di sini. Bahkan di sini juga terdapat makam mantan President US John F. Kennedy.
Meskipun isinya kuburan, tapi penataannya cukup menarik untuk dilihat. Berbagai nama asing tertulis di batu nisan. Hanya saja aku tak tahu apa bedanya antara batu nisan yang berwarna putih dengan yang coklat atau hitam. Katanya sih yang putih itu mungkin hanya serdadu biasa, karena jumlahnya banyak banget. Sesekali terlihat mobil jenazah yang persis dengan yang biasa kita lihat di film-film produksi Hollywood. Aku heran, meskipun di tengah-tengah begitu banyak kuburan, aku tak merasakan takut atau seram sedikit pun. Toh kalau pun ada hantu, pasti hantunya bule cakep hehehe… (Genit Mode = ON).
Di Arlington kami mulai didampingi oleh seorang tour guide berambut pirang dan berkacamata. Pria muda yang pandai membuat lelucon itu bernama Ben. Aku kagum dengan pengetahuannya yang luas, bukan hanya mengenai sejarah Amerika, tapi juga tentang sistem pemerintahannya.
Ben menceritakan tentang Civil War di Amerika antara North and South. Daerah utara yang terkenal dengan industrialis-nya memandang rendah mereka yang di daerah selatan yang mayoritas mata pencahariannya berasal dari bidang agriculture atau pertanian. Awalnya Arlington itu adalah tanah milik pribadi dari Marshal Sir John Dill, yang sempat ditawari untuk menjadi panglima daerah utara. Tapi karena merasa bahwa Virginnia adalah tanah airnya, maka ia menolak tawaran tersebut dan memilih untuk berjuang bagi daerah selatan. Karena begitu banyaknya korban yang jatuh dalam perang tersebut, mengakibatkan presiden saat itu (kalau nggak salah Abraham Lincoln) bingung di mana harus menguburkan mereka. Akhirnya pilihan jatuh pada tanah milik John Dill. Di kemudian hari, pemerintah Amerika memberikan sejumlah uang kepada ahli waris John Dill, sebagai ganti tanah Arlington yang luasnya ampun-ampunan itu.
Ada satu hal yang unik dan menjadi daya tarik Arlington, selain daripada makam John F. Kennedy. Pada saat perang, ada banyak prajurit yang tewas tanpa name tag / ID. Pada zaman dahulu, ilmu forensik belum secanggih sekarang, sehingga tanpa ID, sangatlah sulit untuk mengidentifikasi siapa prajurit yang tewas itu. Pemerintah Amerika memutuskan untuk menguburkan para prajurit tanpa identitas itu di satu area yang diberi nama “The Unknown Soldiers” atau dengan kata lain pahlawan tak dikenal (bukan tanpa tanda jasa… smile).
Pemerintah Amerika berpikir bahwa The Unknown Soldiers ini akan kurang dikenang dan dihormati, karena tidak akan ada keluarga atau handai taulan yang datang berziarah seperti makam prajurit yang lain. In the end, US Government memutuskan untuk memberikan penghormatan khusus dengan menempatkan guard alias pengawal di depan makam mereka. Pengawal ini akan berjalan bolak balik dari satu sisi ke sisi yang lain. Jumlah langkah dari satu sisi ke sisi yang lain ini adalah sebanyak 21 langkah, selanjutnya sang pengawal akan berdiam selama 21 detik, dan kemudian kembali lagi ke sisi yang lain sebanyak 21 langkah, demikian seterusnya. Menurut Ben, angka 21 itu untuk mengingatkan 21 kali tembakan penghormatan yang biasanya diberikan pada saat upacara pemakaman militer. Tradisi ini diambil dari British tradition, di mana ada 7 prajurit dengan 7 senapan menembakkan peluru ke udara sebanyak 3 kali, jadi totalnya ada 21 tembakan.
Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan mengabadikan event ketika pengawal tersebut melakukan upacara khusus untuk pertukaran guards. Kami diperintahkan untuk berdiri dan diam. Para pengawal itu berasal dari US Army yang menggunakan seragam khusus. Mereka terlihat gagah dan guantengggg…, sayangnya galak juga. Begitu upacara selesai dan para turis mulai menimbulkan suara pada saat bubar, sang pengawal pengganti langsung meneriakkan perintah menyuruh kami untuk tetap diam dan menghormati The Unknown Soldiers.
Dari Arlington kami melanjutkan perjalanan menuju White House, kediaman President Amerika Serikat. Turun dari bis yang membawa kami, aku berjalan mendekati White House (Gedung Putih) sambil memandang penuh kekaguman, bercampur haru. Aku rasanya tak percaya, kalau aku si bocah centil dan badung ini akhirnya bisa tiba juga di depan White House. Aku membayangkan wajah keluargaku, terutama kedua orang tuaku seandainya mereka mengetahui di mana saat itu aku berada, pasti mereka juga kagum dan terharu. Aku merasa bahwa aku dan dan teman-temanku cukup beruntung karena bisa ke DC, dan bisa mengunjungi the most important places di US, sedangkan teman-temanku yang lain yang harus mengikuti ESL hanya menghabiskan waktu 2 bulan di keheningan pedalaman Iowa tanpa pernah melihat White House dan tempat-tempat lain di DC.
Di sekitar White House banyak terdapat gedung-gedung penting, seperti misalnya sebuah gedung berwarna kuning yang katanya disediakan khusus untuk President US yang baru terpilih tapi belum mengucapkan sumpah setianya sebagai President. Di samping White House berdiri dengan gagah The Treasury Department yang berseberangan langsung dengan PNC Bank – Bank of America.
Kunjungan selanjutnya adalah ke Capitol Building dan The Memorial of Abraham Lincoln. Untuk gedung yang terakhir ini berada satu kompleks dengan patung peringatan untuk perang di Korea (kalau nggak salah loh ya kekeke….). Canadian Embassy adalah satu-satunya kedutaan yang letaknya berdekatan dengan Capitol Building, untuk menunjukkan kedekatan hubungan antara kedua negara.
Aku baru tahu kalau di DC ternyata tidak ada gedung pencakar langit. Capitol Building adalah gedung tertinggi, sebagai tanda bahwa keadilan adalah hal yang paling penting dan tertinggi. Sinar matahari di DC bersinar sangat terik membakar kulitku yang sudah semakin menghitam, tapi aku tetap menikmati perjalanan keliling Washington, DC.
Dalam perjalanan menuju Capitol Building dan The Memorial of Abraham Lincoln kami melewati The Monument of Thomas Jefferson yang katanya berdiri menghadap ke White House (President). Selanjut ada juga Smithsonian Museum, The George Washington University, United States Holocaust Memorial Museum, Pentagon dan masih banyak lagi yang aku lupa sekaligus sebenarnya nggak tahu namanya hehehe…. sekali-sekali boleh dong.
Ada kisah mengharukan mengenai Smithsonian Museum. Smithsonian berkebangsaan Inggris yang lahir sebagai anak di luar nikah, bahkan ayahnya tidak mengakui keberadaannya. Pada masa itu, hal-hal semacam itu adalah aib yang sangat memalukan di kalangan British Society. Smithsonian sebenarnya sangat cerdas, tapi dia selalu dikucilkan karena statusnya. Ketika dewasa ia pindah ke Italy. Ia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di Amerika, tapi ia sangat tertarik dengan sistem pemerintahan di Amerika yang tidak memandang orang dengan melihat siapa orang tua atau keluarga mereka, melainkan melihat pada apa yang orang itu lakukan. Interesting story, isn’t it?!
Dalam perjalanan pulang kami melewati National Cathedral dan Massachusetts Avenue yang kami kunjungi sehari sebelumnya ketika kami mendatangi KBRI. Massachusetts Avenue terkenal juga dengan nama The Embassy Road, hal ini disebabkan karena di sinilah terletak kantor kedutaan dari negara-negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika. Menurut cerita Ben, sebenarnya dulu kantor-kantor kedutaan yang luas dan mentereng itu adalah rumah pribadi milik para konglomerat di Amerika. Tapi pada tahun 1929 terjadi resesi yang mengakibatkan para hartawan itu harus menjual rumah-rumah mereka. Masalahnya untuk membeli rumah mewah plus maintenance-nya pasti membutuhkan uang dalam jumlah besar. Maka satu-satunya pihak yang sanggup membeli adalah pemerintah Amerika yang kemudian menjadikannya kantor-kantor kedutaan.
Hari kedua di DC berakhir dengan sangat melelahkan, tapi aku juga sangat bahagia. Aku mengunjungi tempat-tempat yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya akan ku kunjungi. Aku hanya pernah melihat tempat-tempat itu di TV dan internet. Sekarang Tuhan benar-benar membawaku ke sini…, aku benar-benar diberkati.




