Aku bangun terlalu awal pagi itu, bahkan lebih awal 1 jam dari wekerku. Mungkin itu disebabkan karena jet-lag. Sesaat aku terkejut, karena yang datang tadi malam itu bukan hanya 1, tapi 2 orang wanita yang sekarang terlelap di kedua tempat tidur yang ada. Berarti masih ada 1 orang lagi yang akan datang. Aku menikmati mandi pagi dengan air hangat. Tubuhku rasanya sudah mulai pulih dari letih yang berlebihan.
Selesai mandi, aku mulai mengolesi lotion ke tubuhku, ketika telepon berdering lemah. Ternyata Jazzy hanya ingin mengajakku untuk keluar menikmati jatah breakfast kami bersama-sama. Aku baru saja mengembalikan gagang telepon ke tempatnya ketika aku menyadari bahwa salah satu dari pendatang baru itu sudah bangun dan kini menatapku dengan mata mengantuk.
Untuk menjaga nama baik Indonesia, yang katanya terkenal ramah, aku melemparkan senyuman persahabatan padanya. Ia membalas senyumanku sambil bergumam tak jelas. Aku pun menghampirinya lalu memperkenalkan diriku.
“Hi, I’m Lidia, from Indonesia.”
Dengan akses timur tengah ia membalas sapaanku.
“Ohh… I’m Howida. Hmm… I’m from Egypt.”
Sambil menyungging senyum lebar yang agak dipaksakan aku mengucapkan permintaan maafku padanya karena tidak sempat menyambut mereka dengan sewajarnya semalam. Ia hanya menggeleng dan mengatakan bahwa itu tidak menjadi masalah, dan ia mengerti kalau aku sangat lelah semalam.
Ternyata gadis Mesir yang satu ini sangat ramah dan bersahabat. Meskipun baru kenal, kami sudah saling bertukar cerita tentang banyak hal. Bahasa Inggris Howida sangat terbatas, tapi itu tidak menjadi kendala bagi kami. Ia bahkan menunjukkan padaku berbagai selendang indah dan mahal yang dibawanya dari Mesir. Oh ya, satu hal yang penting, Howida sangat cantik. Ku rasa jika ia datang berkunjung ke Indonesia, banyak pemuda yang akan jatuh hati padanya. Ia juga rajin sholat. Sekalipun kami berbeda keyakinan, tapi kami tetap saling menghormati satu sama lain. Aku membantunya mencari arah yang tepat untuk sembahyang ke arah Kiblat. Sayangnya, aku tak bisa membantu ketika ia menanyakan tentang mesjid di sekitar penginapan kami. Aku memperkenalkannya pada Jazzy yang juga seorang muslim. Ku pikir mungkin ia bisa membantu Howida mendapatkan mesjid terdekat. Ternyata hal itu sia-sia karena Jazzy bisa dibilang hampir tidak pernah menjalankan perintah agamanya.
Ketika kami asyik mengobrol, teman sekamarku yang lain terbangun dan ikut bergabung mengobrol bersamaku dan Howida. Temanku yang baru ini juga seorang wanita Mesir, bernama Mervat. Ia memang tidak secantik Howida, tapi kulitnya sangat cantik dan mulus. Aku terkejut ketika mengetahui bahwa Mervat ternyata baru 10 hari yang lalu melepas masa lajangnya. Dengan raut wajah sedih ia menceritakan tentang suami yang sangat dicintainya itu, seorang pria Mesir yang bekerja sebagai dokter. Mervat mengeluhkan bahwa seharusnya ia masih dalam masa honey moon. Well, sepertinya banyak yang harus dikorbankan untuk datang ke Amerika.
Pagi itu aku sarapan bersama teman-teman baruku. Ternyata Mesir adalah negara terbanyak yang mengirimkan mahasiswa untuk Fulbright Scholarship. Seluruh peserta dari Mesir yang datang untuk orientasi di DC adalah 175 orang, bisa dibayangkan kalau bahasa Arab sudah menjadi bahasa kedua di lingkungan orientasi kami, setelah bahasa Inggris. Saat sarapan, aku berkenalan dengan beberapa mahasiswa lain yang juga berasal dari Mesir. Jangan tanya namanya, karena aku hampir tak bisa mengingat satu pun nama mereka. Masalahnya, pria Mesir itu namanya kalau tidak Ahmad ya… Muhammad. Jadi aku tak bisa membedakan lagi satu dengan yang lainnya. Ku pikir orang tua mereka benar-benar tidak kreatif dalam hal memberikan nama pada anak-anak mereka.
Hari ini, karena sebagian peserta masih belum datang, maka dari CCID kami diberitahu bahwa program acara baru akan dimulai besok. It means hari ini kami bebas jalan-jalan mengisi hari pertama kami di DC. Bersama teman-teman dari Indonesia, kami memutuskan untuk melaporkan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC. Mengingat KJRI tidak terdapat di semua state di US. Bahkan di California (tempat kuliahku nanti), KJRI hanya ada di Los Angeles dan San Fransisco.
Sebenarnya Ammad sudah menawarkan untuk mengantar kami dengan mobil van yang disediakan CCID. Tapi karena kami harus menunggu Andy, Icus dan My Dear Little Friend Tommy, yang berdandan sejuta abad lamanya, akhirnya kami kesiangan berangkat ke kedutaan, and there was no available car for us.
Untunglah kami bertemu dengan Mr. Shawn J. Woodin, the most famous man in CCSIP students. Namanya sangat harum di antara para penerima scholarship Fulbright. Namanya-lah yang kami cantumkan di aplikasi US visa kami, sebagai orang yang akan kami kunjungi di US. Ia juga yang mengirimi kami berbagai informasi tentang orientasi di DC. Mr. Woodin pula yang menjadi contact person kami kalau-kalau terjadi perubahan pada flight schedule.
Aku dan kawan-kawanku sangat terkejut ketika bertemu Mr. Woodin untuk pertama kalinya. Dalam bayangan kami, ia adalah seorang pria tua dengan perut gendut dan rambut beruban. Tommy malah mengira Mr. Woodin itu adalah seorang Afro-Amerika. Ternyata sosok Mr. Woodin itu jauh dari yang kami bayangkan. Untuk teman-teman sesama CCSIP yang belum pernah bertemu dengan si Mr. Woodin, akan ku deskripsikan pria ini sebaik-baiknya agar kalian bisa membayangkan rupanya yang rupawan (hahh???? Gak salah tuh???). Mr. Woodin adalah seorang pria bertubuh super slim dengan rambut coklat ikal, dagunya ditumbuhi bulu ala janggut kambing, dan gerak-gerik yang luwes dan agak terkesan kemayu. However, dia punya sepasang mata coklat yang sangat ramah dan menunjukkan persahabatan dan perhatian yang mendalam.
Mr. Woodin pula yang membantu kami mendapatkan direction untuk mencapai KBRI yang terletak di Massachusetts Avenue. Kami harus menumpang bis L8 dari halte di depan 4H Conference, menuju Friendship Heights Metro Station. Kemudian kami melanjutkan dengan Red Line ke Dupont Circle Metro Station. Red Line adalah semacam under ground train. Perjalanan yang kami tempuh lumayan nyaman. Baik bis maupun train di US sangat bersih dan bebas dari kemacetan. Kami juga bertemu dengan banyak bule, sampai-sampai terdengar celetukan konyol dari Icus:
“Koq kayak di luar negeri ya…”
Waduh massss, koq iso udah nyampe Amerika katro + ndesonya masih dibawa-bawa juga, piye tohhh….!!!!
Setibanya di Dupont Circle, kami masih harus berjalan kaki yang menurut direction diberikan adalah sekitar 0.09 mile. Parahnya anak-anak Indonesia yang tingkat kecerdasannya berlebihan ini, terlalu asyik berfoto dan mengagumi berbagai hal termasuk para bule yang bersliweran. Akibatnya kami kesasar dan berjalan memutar sekitar 5 kali lebih jauh dari jarak yang seharusnya kami tempuh.
Kami tiba di KBRI 15 menit sebelum jam 1 siang. Dan sialnya, kantor KBRI itu pun tutup jam 1 siang. Icus, Andi dan aku sangat beruntung karena kami masih sempat-sempatnya membawa pasfoto, sehingga acara melaporkan diri (kayak napi ya…) kami bisa langsung diproses dan sukses tenan. Untuk Margi, Jazzy dan Tommy…., kassssiaaaannnn deeehh loooo…..!!! Mereka tidak membawa pasfoto seperti yang diminta. Oleh pegawai kedutaan, mereka dianjurkan untuk membuat foto di CVS, yaitu toserba yang juga menyediakan jasa foto kilat. Tidak sampai 10 menit kemudian mereka kembali dengan wajah muram. Ternyata meskipun kilat, tetap saja CVS tidak mampu mencetak foto secepat mungkin, sebelum kantor KBRI tutup. Itu pun masih ditambah dengan ongkos foto + cuci cetak yang lumayan mahal, sekitar $8.
Selesai dengan urusan di KBRI, kami mulai merasa perut keroncongan. Karena sudah lewat waktu makan siang di 4H Conference, maka kami memutuskan untuk membeli makan siang di restaurant terdekat. Masalahnya, restaurant terdekat mana yang menyediakan makanan termurah???? Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di sebuah cafe pizza yang letaknya di bawah tanah. Agak aneh sebenarnya, tapi kami memang harus menuruni tangga di pinggir trotoar untuk mencapai cafe yang menyediakan pizza ukuran super dengan harga murah tersebut. Karena ukurannya yang luar biasa besar, kami masing-masing membeli 1 potong pizza untuk dimakan berdua. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah ini karena ukuran pizza-nya yang memang besar, atau karena mau berhemat :p
Kami kembali ke Friendship Heights untuk menumpang bis yang akan membawa kami kembali ke 4H Conference. Sayangnya kami datang terlambat atau mungkin terlalu awal, yang pasti kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bis L8 datang menjemput anak-anak bandel ini. Kami agak was-was karena waktu saat itu sudah hampir pukul 4, sedangkan pukul 5.30 nanti kami diundang untuk makan malam sebelum mengikuti acara pembukaan orientasi. Untunglah akhirnya bus yang kami tunggu-tunggu itu datang juga, dan kami para penumpangnya segera menyerbu naik.
Ternyata yang disebut makan malam itu bukanlah exclusive dinner seperti yang kami kira sebelumnya. Makan malam di 4H Conference berlangsung dengan santai dan informal. Untunglah aku tidak mengenakan gaun seperti yang ku rencanakan sebelumnya. Berbeda dengan Jazzy yang tampil dengan gaun terusan sebatas lutut.
Aku lupa menceritakan, kalau Jazzy sekarang sudah mendapat julukan ‘Kembang Mesir’. Aku dan teman-temanku dari Indonesia pusing melihat tingkah lakuknya yang sudah keterlaluan genitnya. Semua pria yang ada di situ, tidak peduli asal, umur maupun rupa, pasti diberikan kerlingan maut dan beberapa sentuhan manja darinya. Astaganaga Jazzy, sadar jeng, insaf….!!!
Pembukaan orientasi tidak berlangsung lama, hanya beberapa patah kata dari seorang pria separoh baya yang aku lupa namanya (katanya sih petinggi CCID), serta ucapan selamat datang dari Mr. Woodin.
Malam itu ketika akan tidur, aku, Howida dan Mervat terkejut mendapatkan seorang pendatang baru dari Brazil. Seorang gadis manis bernama Joyce sekarang bergabung di kamar 5106.





