Finally, Bocah Centil nyampe juga di Amerika. Berkat pertolongan Tuhan, diriku berhasil mewujudkan impian ke Amerika.
Perjalanan dimulai sejak aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah dan terbang ke Jakarta. Keesokan harinya aku masih harus mengambil surat-surat, termasuk passport, uang akomodasi, fiskal dan uang saku dari kantor AMINEF. Lumayanlah dalam hal ini kami cukup sejahtera.
Jam 6 sore yang cerah ceria, aku check out dari hotel sambil menenteng 2 koper, 1 tas laptop dan 1 ransel berisi surat-surat beserta sejumlah uang, dan persediaan pakaian untuk 3 hari. Ini untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk kalau bagasi kami melanglang buana dulu ke tempat lain.
Tiba di Airport Soekarno Hatta, bersama 5 orang teman yang lain kami segera melakukan check in di counter Qatar Airways. Meskipun harus mengantri dan memakan waktu yang cukup lama, tapi kami berhasil juga melakukan check through Dulles Airport, Washington, DC. Proses pembayaran fiskal dan imigrasi tidak terlalu lama, kami bahkan masih sempat menyantap bakso terakhir yang bisa kami nikmati di tanah air.
Setelah itu kami harus menunggu cukup lama sampai tiba waktu keberangkatan ke Singapore. Di waiting room kami mengobrol dengan seorang teman baru, seorang gadis tomboy asal negeri kincir angin. Cewek Belanda ini benar-benar hampir tak percaya bahwa kami akan ke US karena scholarship. Dia mengatakan bahwa kami terlihat sangat relaks dan mungkin sedikit sinting
Penerbangan ke Singapore cukup singkat. Bahkan lebih cepat daripada yang dijadwalkan. Pesawat Qatar Airways yang kami tumpangi cukup nyaman, bahkan sangat nyaman. Masing-masing seat dilengkapi dengan LCD yang menyajikan bermacam-macam program acara, film, bahkan games yang bisa kami mainkan dengan stick remote control yang tersedia di masing-masing kursi. Masalahnya, karena pesawat ini milik Qatar, otomatis bahasa utamanya adalah bahasa Arab. Awalnya ku pikir itu bahasa Prancis, tapi koq rada-rada aneh juga ya, hehehe…
Kami tiba di Changi Airport 30 menit lebih awal dari jadwal flight yang kami terima. Tandanya kami harus menunggu cukup lama hingga penerbangan berikutnya ke Narita, Jepang. Kami menghabiskan waktu 5 jam menunggu di Changi dengan mengopi, tidur-tiduran, internet dan bersantai.
Sekitar pukul 5 pagi kami melaporkan diri di counter United Airlines. Untunglah kami tidak perlu mengurus bagasi lagi, kami hanya cukup mengkonfirmasi dan mendapatkan boarding pass yang baru. Setelah itu, tiba saat-saat yang menegangkan di bagian security check. Barang hand-carry kami melalui pemeriksaan yang cukup panjang. Laptop harus dikeluarkan, bahkan aku sempat disuruh menyalakannya. Entahlah, tapi yang pasti aku berhasil melewatinya.
Penerbangan dari Singapore ke Narita ditempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam. Penerbangannya cukup menyenangkan, para pramugarinya sangat ramah, makanan berlimpah, dan ditambah dengan seat di sebelahku kosong sehingga aku bisa tiduran. Meskipun demikian, tetap saja perjalanan ini terasa sangat melelahkan (seperti kata Ebit G. Ade).
Tiba di Narita, kami berpikir bisa beristirahat dan berfoto-foto sejenak. Ternyata kenyataan tidak seperti yang kami harapkan. Begitu turun dari pesawat, kami harus berlari-lari karena flight United Airlines menuju Washington, DC sudah boarding dan pesawat akan berangkat dalam waktu 30 menit. OMG!!!
Inilah puncak dari perjalananku ke Amerika. Bagian terpanjang dan terburuk dari semua penerbangan, yaitu aku harus melewati sekitar 13 jam dalam pesawat United Airlines dari Narita ke DC. Pramugarinya galak dan tidak ramah, tempat duduk sekitarku terisi semua dan aku mendapat posisi tepat di tengah-tengah. Satu-satunya hal yang menggembirakan adalah makanannya cukup lezat dan teramat sangat melimpah ruah. Rasanya hampir tiap 5 menit kami disuguhi makanan.
Rasa-rasanya kami tak kan pernah sampai ke US, karena penerbangannya begitu panjang dan sangat melelahkan. Kami tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena posisi tidur yang teramat sangat tidak nyaman. Dalam hatiku aku melantunkan lagu “Living On The Jet Plane”. Selama perjalanan, kami mengisi waktu dengan mengisi 2 lembar form untuk imigrasi.
Setelah berabad-abad terbang bersama para pramugari yang jelek dan galak serta para pramugara yang guanteng luar biasa, akhirnya kami tiba juga di Dulles Airport, Washington, DC.
Aku keluar dari pesawat dengan perasaan campur aduk, gembira dan haru. Aku hampir saja melakukan ritual cium tanah seperti yang biasa dilakukan Pope. Ku pikir penderitaanku sudah berakhir, ternyata masih ada lagi yang menunggu. Kami harus berdiri antri di bagian imigrasi untuk foreign passport. Antriannya sangat panjang, dan kami harus menunggu selama hampir 2 jam, sampai akhirnya giliranku tiba. Petugasnya menanyakan,
“so, you bring food?”
Aku menjawab, “only some biscuits and candy”.
Petugasnya mengangguk dengan acuh. Setelah dia mengembalikan passport beserta surat-suratku yang lain, aku mengecek 1 lembar surat yang menurut Pak Piet Hendrarjo (Indonesian Program Coordinator for AMINEF), harus dicap stempel oleh sang petugas tersayang. Aku menanyakan untuk memastikan cap tersebut, dan dia membuatku hampir mati ketakutan.
“What stamp???” tanyanya sambil matanya melotot menatapku.
Dengan gagap aku berusaha menjelaskan tentang cap pada form I-20 ku. Akhirnya dengan putus asa aku hanya mengatakan “Thanks” lalu berlalu pergi.
Ternyata, aku sebetulnya tidak perlu bertanya, karena petugas ganteng yang galak tadi sudah memberi cap pada form-ku. Malah beberapa teman-temanku yang lain tidak berhasil mendapatkan cap, yang mungkin akan menyebabkan kesulitan bagi mereka di kemudian hari.
Aku keluar bersama bagasiku mencium udara bebas di Dulles. Badanku sudah berbau 1001 macam, penuh daki karena tidak mandi selama 2 hari, tulang-tulang terasa rontok semua. Margi malah lebih parah lagi, katanya pantatnya sudah mati rasa karena duduk terus. Puji Tuhan, aku selamat tiba di US. Bagasiku juga aman semua, kecuali 1 koperku agak sobek karena keseringan dibanting sama portir, tapi setidaknya barang-barangku tidak ada yg miss atau rusak. Beberapa peserta dari Mesir ada yang hilang bagasinya, dan harus menunggu cukup lama untuk mendapatkannya lagi.
Di Dulles Airport, kami disambut oleh seorang penjemput yang sudah disediakan oleh CCID. Seorang pria keturunan Pakistan dengan senyum hangat dan ramah. Satu-satunya masalah, yaitu dia mendapat informasi yang salah. Dia mengira bahwa para students yang akan dijemputnya itu berasal dari Mesir, akibatnya hampir saja kami dicuekin. Untung saja mataku cukup jeli melihat bahwa dia mengenakan tanda pengenal CCID yang dikalungkan di lehernya. Kami dibawa ke National 4-H Conference Center di Connecticut Ave, Maryland.
Karena di sini lagi summer time, maka jam 8 malam (ketika kami tiba di site Conference), langit masih terlihat terang benderang, seperti jam 4 sore kalau di Indonesia. Perbedaan waktu dengan Jakarta adalah 13 jam. Aku merasa bagaikan bermimpi. Tapi ini belum apa-apa, aku baru mulai menjalani mimpiku. Ini masih permulaan, masih akan ada hal-hal yang lebih besar lagi yang telah Tuhan sediakan untukku. Amin!!!


Akhirnya dah nyampe juga di US …
Selamat ya, met menikmati mimpi indah yg dari dulu
dicita-citain …
Sukses ya … met belajar
Kapan ke Santa Ana?
Thanks ya, Ris.
Aku udah di Santa Ana sekarang.