Cieeehhhh….. kalau membaca judul di atas, aku serasa terbang ke langit ketujuh.
Kadang-kadang aku merasa geli dengan segala yang terjadi dalam hidupku. Ada hal-hal tertentu yang sangat ingin ku lakukan, dan aku berusaha dengan segala cara untuk mencapainya. Most of the time aku gagal, tapi anehnya ketika aku sudah tidak berharap, maka hal itu datang pada saat yang sangat tepat dan cara yang tidak pernah aku duga sebelumnya. God’s time is always perfect.
Seperti halnya dengan scholarship ke US yang ku terima, aku sudah sempat putus asa karena menunggu sedemikian lama. Beberapa teman bahkan sudah menerima hasilnya. Aku pun sudah berpikir untuk merelakannya. Tapi ketika aku sudah tidak mengharapkannya, mujizat itu nyata (kayak lagu…) dan Tuhan membuat impianku menjadi nyata dengan cara yang istimewa.
Dulu aku sering melewati kedutaan besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan. Setiap kali aku melewatinya, sempat terlintas di benakku, kapankah aku bisa menapakkan kaki di kedutaan yang sangat prestige ini. Aku pun mencoba berbagai cara. Bersama temanku, kami menyusun berbagai siasat untuk bisa masuk ke US Embassy, walaupun tidak untuk membuat visa.
Kami mengirim email, tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya kami memberanikan diri untuk menelpon, menanyakan tentang perpustakaannya. Karena menurut hemat kami, hanya dengan alasan itu kami bisa diperbolehkan masuk ke US Embassy. Ketika ditanya ingin mencari informasi apa di perpustakaan, aku menjawab ingin mendapatkan informasi tentang education di US. Oleh petugas yang menerima telepon, aku dianjurkan untuk mengubungi AMINEF. Dengan pede-nya aku menelepon AMINEF, dengan asumsi bahwa AMINEF itu juga ada di lingkungan US Embassy. Tapi harapan kami langsung pupus ketika mbak AMINEF (begitu aku memanggil si petugas) memberitahu bahwa ternyata kantor AMINEF itu ada di gedung Balai Pustaka, atau dengan kata lain jauh dari US Embassy, ohhh noooo!!!!
Tapi setelah aku tidak berusaha lagi, ternyata Tuhan memberikan berkat berupa beasiswa ke US. It means, aku harus buat visa. Dan kemarin, 19 Juni 2008 adalah hari bersejarah dalam hidupku ketika untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bumi US Embassy.
Beberapa temanku sesama grantees yang sudah lebih dulu berangkat ke US, menasihatiku untuk tidak perlu khawatir dengan interview visa. Katanya interview untuk seleksi di AMINEF masih jauh lebih mematikan daripada yang satu itu. Tapi toh aku tetap merasa was-was, apalagi ketika Bu Adeline (AMINEF) mengatakan bahwa ada juga beberapa Fulbrighters yang ditolak / pending visa-nya, tanpa alasan yang jelas. Katanya sih karena mereka hanya punya 1 nama yang menyebabkan butuh waktu lama untuk mencarinya di database US Intelligent. Bu Adeline juga mengatakan bahwa jika visa kami refused, maka passport akan langsung dikembalikan saat itu juga. Tapi jika berhasil, maka kami akan mendapatkan kartu putih di mana tercantum tanggal pengambilan visa. Oh God, semoga aku dapat kartu yang warna putih, jangan kartu kuning, apalagi kartu merah (ini interview visa atau main bola ya????).
Dari malam sebelum interview aku sudah gelisah, seolah-olah isi perutku terjungkir balik. Pagi hari sebelum interview, aku diare sampai beberapa kali sangking nervous-nya. Ketika ini ku ceritakan kepada teman-teman, mereka hanya menertawakanku. Akhirnya aku mengirim SMS kepada segenap anggota keluargaku di Manado, memohon dukungan doa. Untunglah Papie dan Mamie-ku bagaikan malaikat penolong, mereka mengirimkan SMS panjang berisi kata-kata penguatan. Mereka mengatakan bahwa mereka, termasuk kakak dan adikku, sudah berdoa pagi itu untuk kelancaran proses interview-ku. Papie (caileee…) mengatakan bahwa dia merasa mendapat bisikan dari Tuhan that everything will be ok for me.
Aku dan teman-teman turun di depan US Embassy dengan perasaan campur aduk, 5 sendok senang, 7 gelas bangga, dan 10 Kg ketakutan (mau masak ya, mbak?). Di gerbang depan (Pos I), kami mengatakan bahwa kami dari AMINEF, datang untuk interview visa. Sang petugas security terlihat sibuk mengecek, apakah nama kami sudah terdaftar atau belum. Akhirnya setelah menunggu lebih dari 5 menit, kami diperbolehkan masuk. Aku terkejut ketika melihat bangunan US Embassy ternyata old historical building. Sebelumnya aku membayangkan sebuah gedung modern dengan begitu banyak kaca. But I like the environment, and nervous forever!!!
Melintasi lapangan basket, kami mendatangi Pos II. Di sini kami harus menitipkan handphone dan segala barang elektronik. Setelah menunjukkan kartu identias (KTP of course) dan dicatat namanya, kami mendapatkan badge untuk pengunjung. Selanjutnya tas, berikut tubuh kami harus melewati security screen, untuk mendeteksi ada-tidaknya benda berbahaya. Ups…, payung yang kubawa menjadi masalah, untunglah sang petugas segera mendapati bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan payung jelek itu. Malang bagi Andy (peserta CCSIP dari Makassar), dia disuruh untuk menunggu petugas mencatat semua barang-barang elektronik yang kami titipkan. Akhirnya kami diperbolehkan masuk ke ruang tunggu untuk interview.
Di ruangan ini ada beberapa loket kaca. Kami duduk di bagian yang bertuliskan “Non Immigrant Visa”. Kami memandang dengan iri ke arah mereka yang duduk di bagian “Citizen and Permanent Resident”. Well, maybe someday I will sit in that section too, if it’s God’s will for me.
Kami menunggu dengan sabar ketika nama kami dipanggil satu-persatu untuk memberikan sidik jari. Setelah sidik jari kami didapati tidak sama dengan sidik jari para teroris yang terdaftar di database FBI, kami pun dipanggil satu-persatu untuk interview di loket yang tidak jauh dari loket sidik jari tadi. Aku duduk diam, dengan tangan beku sedingin es, jantung yang rasanya hampir meloncat keluar dari dadaku. Aku mengucapkan doa dalam hati dan berusaha menarik napas panjang dan melepasnya lewat mulut seperti yang diajarkan pelatih choir-ku. Itu tidak banyak membantu. Ketika aku hampir pingsan karena ketakutan, namaku dipanggil oleh sang officer, giliranku untuk interview telah tiba. Oh God, please help me!
Aku ternganga ketika melihat sang officer yang akan menginterview-ku. Ternyata dia adalah seorang yang sudah ku kenal meski kami tidak pernah mengobrol sebelumnya. Dia adalah seorang pria Amerika yang masih muda, anggota gerejaku di All Saints. Aku tahu bahwa dia bekerja untuk US Embassy, tapi tak pernah terlintas di pikiranku bahwa akhirnya dia yang akan menginterview-ku. Pria ini tidak menunjukkan kesan bahwa dia mengenalku. Bertemu dengan seseorang yang kukenal, tidak mengurangi ketakutanku. Dengan suara gemetar aku berusaha menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
Ternyata teman-temanku benar. Tidak ada yang perlu ku takutkan. Interview visa ini berjalan sangat amat singkat. Petugas ini hanya menanyakan akan ke mana di US, apa yang akan kupelajari, apakah aku punya keluarga di sana, dan apa pekerjaanku saat ini. Tidak sampai 5 menit, sang petugas bule telah melemparkan kartu putih ke arahku, sambil berkata:
“You can come back here to get your visa on Monday.“
That’s it! Tanpa senyum dan tanpa ekspresi, dia mengucapkan “Have a nice trip!”
Dan aku, dengan tergagap karena terkejut mengucapkan “thank you very much.”
Thanks God, I got the visa!!! Horraayyyy!!!
[...] Bagaimana nggak, kami harus kehilangan salah seorang rekan kerja kami Mba Lidia, karna dia harus melanjutkan pendidikannya di negeri orang, USA. (Hallaahhh.. gak usah Ge-er mba Lid.. ecek2ku nya itu biar mba seneng.. Hahahaha). Sebenernya [...]
Have a nice trip mba Lid
Thanks ya Li, udah buat tulisan tentang diriku di blogmu. Gue jadi terharu tapi juga kesel hehehe
Makanya kalau muji jangan setengah2 donk
bu, kalo da nyampe US, jangan lupa kontact2 aku yah bu..
Hmmm.. salam buat US, Mbak Linda
Ini yang difoto farewell nya ada Elwina dan Vera kan? Mereaka teman sekelas SMA saya … hikS
Hallo Yessi, salam kenal …
Iya yang di foto itu Elwina sama Vera, ada juga Mona sama Gloria alias Oli, mereka itu satu gank preman dari Medan hahaha bercanda Li… Horas!!
[...] was surprised since one of the ushers is the man who works for the US Embassy; he is the consular officer who interviewed me for my student visa. I became nervous again and didn’t know what I have to say. Finally I shook his hand while [...]
Nice…kerendahan hati membantu berkat turun atas kita jg..trus yang paling penting”fight for ur dream, never stop to dream!”
Sukses ya!