Menepati janjiku sebelumnya, aku akan menceritakan tentang gereja yang telah menjadi tempatku beribadah selama setahun terakhir ini. Sudah lama aku ingin menulis sesuatu tentang gerejaku, tapi setiap kali aku duduk di depan komputer, jari-jariku seakan beku tak mau bergerak menyentuh tuts-tuts pada keyboardku. Akhirnya aku hanya duduk terdiam sampai screensaver menutupi pandanganku dari Firefox. Hari ini entah ada angin apa akhirnya aku berhasil juga mengetik sampai sejauh ini.
Judul di atas adalah salah satu dari pertanyaan survey yang diadakan gerejaku kurang lebih sebulan yang lalu. Sebuah survey yang menuai kontroversi di kalangan orang Indonesia. Bagiku, just be positive. If there’s nothing wrong with you, then there’s nothing you need to worry about.
Gerejaku berada di kawasan Jakarta Pusat, tepatnya di Jl. Arief Rahman Hakim No. 5 Menteng. Gereja yang usia bangunannya sudah cukup lanjut ini resminya bernama All Saints Anglican Church. Dulu ketika aku masih baru di ibukota, sempat beberapa kali melewati gereja ini. Awalnya aku merasa seram melihat temboknya yang tinggi, jeruji besi dan masih ditambah kawat berduri yang membuatnya terkesan seperti penjara. Tidak hanya itu, dari luar juga terlihat pohon-pohon tinggi besar berdaun rimbun menambah angker suasana. Waktu itu aku sempat berpikir bahwa mungkin itu gereja katolik, atau mungkin juga gereja beraliran sesat (I’m sorry, Mr. Appleby).
Awal tahun 2007 aku masih beribadah di sebuah gereja lain (masih di bilangan Jakarta Pusat) yang juga menyediakan English Service. Aku sangat menikmati kebaktian berbahasa Inggris. Bukannya aku tidak mencintai Bahasa Indonesia, tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain ketika bernyanyi dan berdoa dalam bahasa Inggris. Mungkin karena ada hal-hal tertentu yang sulit diungkapkan dengan bahasa Indonesia, tapi akan terasa mudah bahkan indah bila diungkapkan dengan bahasa Inggris. Perlu diingat bahwa Alkitab diterjemahkan dari bahasa Inggris, begitu juga sebagian besar hymn yang dinyanyikan di gereja-gereja Indonesia adalah terjemahan. Kadangkala terjemahan itu agak melenceng dari makna sebenarnya dalam bahasa Inggris, itu pula alasan kenapa aku lebih memilih kebaktian dalam bahasa Inggris.
Malangnya, gereja yang sebelumnya ku kunjungi ini memang menyediakan English Service, tapi para diaken yang melayani plus Pendetanya (kadang2) tidak begitu bagus dalam pronounciation dan grammar (apaan cobaaa….), mungkin karena bukan native speaker, alias orang Indonesia yang berbahasa Inggris. Akibatnya aku merasa terganggu dan sulit memahami apa yang mereka katakan.
Aku menceritakan masalah ini to my best friend, pada saat kami menikmati makan malam di sebuah restaurant di mall Taman Anggrek. Temanku menyarankan agar aku mengunjungi All Saints Anglican Church di Menteng. Aku terkejut mendengarnya.
Aku menyahut “bukannya itu gereja Katolik?”
Dengan santai ia menjawab “bukan, itu gereja Protestan koq. Gue udah pernah ke situ sekali.”
Setelah mendapat kepastian darinya, aku mulai menyusun rencana untuk datang ke All Saints pada hari Minggu berikutnya.
Hari Minggu pagi di awal Februari 2007, aku melangkah dengan sedikit ketakutan menuju All Saints. Setelah mengecek jadwal kebaktian di internet, aku memilih untuk menghadiri kebaktian pukul 7.30 am. Ku pikir aku akan pingsan ketakutan, tapi anehnya aku merasa ada perasaan lain ketika kakiku menapak di depan gerbang gereja ini. Ada suasana khidmat, khusyuk, doa, sejahtera dan berbagai perasaan lain yang sulit untuk ku ungkapkan dengan kata-kata. Seolah setiap lembar daun, setiap butir kerikil, setiap jengkal tanah dan segala makhluk di gereja itu sedang melantunkan pujian dan penyembahan bagi Raja di atas segala raja yang telah menciptakan semesta ini, dan juga telah menebus dosa-dosaku.
Kenapa jadi serius begini ya??? Wah, bocah centil bertobat. Tapi itulah yang sebenarnya ku rasakan pada saat itu, meskipun aku baru berdiri di depan gerbang gereja, dan belum melangkah masuk ke dalam gereja.
Sebelum mencapai gedung gereja, aku masih harus melewati security check terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena sebagian besar jemaat di sini adalah orang asing alias bule, ada juga Chinese, Negro, India, dan dari berbagai suku bangsa. Beberapa orang bekerja untuk kedutaan, bahkan beberapa Dubes juga kadang-kadang datang ke gereja ini pada hari-hari besar seperti Christmas or Easter.
Setelah dinyatakan bukan teroris oleh pak security, aku berjalan menuju gedung gereja yang letaknya ternyata agak jauh masuk ke dalam. Ada pagar besi tipis yang membatasi antara bangunan gereja dan gazebo dengan pelataran parkir. Sekali lagi aku menjumpai seorang Satpam berjaga di gerbang dalam.
Aku kagum melihat bangunan gereja yang berdiri megah di depanku. Bangunan ini terlihat sangat artistik dan eksotis, persis bangunan bersejarah di Eropa. Gereja ini sebenarnya adalah gereja Inggris, dan juga (kalau tidak salah) didirikan oleh beberapa orang Inggris. Tapi melihat pilar-pilarnya aku teringat pada nuansa arsitektur Belanda.
Dugaanku tidak jauh meleset. Ruangan di dalam gereja terasa sangat nyaman dan sejuk karena langit-langit yang tinggi. Bangku-bangkunya pun masih terbuat rotan, seperti peninggalan zaman Belanda. Di depan kursi tersedia tempat untuk berlutut yang bagian bawahnya dibuat beroda sehingga bisa didorong masuk ke bawah bangku di depannya. Di dinding koridor samping ruang kebaktian terdapat plat-plat besi bertuliskan nama-nama pendahulu yang pernah berjaza bagi gereja ini. Terlihat nama orang-orang asing seperti Colonel William dan lain sebagainya.
Pendeta yang berkhotbah pada saat itu adalah Rev. Dale Appleby, seorang pria berkebangsaan Australia yang bahasa Inggrisnya sangat halus dan intonasi suara yang lembut menenangkan. Dengan bahasa Inggris yang sempurna seperti itu, membuatku sangat mudah memahami khotbahnya. Cukup sekali mendengarkan ia berbicara, aku sudah bisa menarik kesimpulan bahwa Pendeta ini memiliki pengetahuan Theologia yang cukup luas.
Aku juga menikmati dentingan piano yang lembut mengiringi kami bernyanyi. Pemain musiknya adalalah istri Pendetaku sendiri, Ibu Joy Appleby. Aku begitu terhanyut dengan hymn yang kami nyanyikan, membuatku seolah sedang berada di surga dan bernyanyi bersama para malaikat. Temanku benar, ini adalah gereja Protestan dengan suasana kebaktian yang luar biasa menarik.
Tiba-tiba timbul perasaan was-was ketika membaca pada order of worship, bahwa pagi itu kami akan menerima Holy Communion alias perjamuan. Aku khawatir sekaligus juga bersemangat karena aku tidak tahu bagaimana cara gereja Anglican mengadakan perjamuan. Pada saat Holy Communion dimulai, jemaat berjalan ke depan menuju altar. Meskipun merasa bingung, aku langsung mengekor di belakang mereka.
Akhirnya aku melihat cara mereka menerima perjamuan ini. Ternyata di depan altar tersedia beberapa bantal untuk jemaat berlutut. Kemudian sang Pendeta bersama seorang assistant memberikan hosti (roti bundar yang sangat tipis seperti kertas, khusus untuk perjamuan) dan juga minuman anggur. Untuk wine disajikan dalam cawan besar yang bisa diminum secara bergilir, dan tersedia juga dalam sloki (gelas kecil dari plastik) atau biasa disebut individual chalice.
Aku benar-benar menyukai cara holy communion seperti ini. Benar-benar berbeda dengan gereja-gereja yang sebelumnya ku kunjungi. Aku merasakan khidmat yang teramat sangat. Aku menyukai khotbah, musik, lagu, jemaat, environment dan segala yang ada di gereja ini. Gereja ini bukanlah tanpa cela, tapi cobalah selalu untuk berpikir positif dan bersyukur dengan segala yang diberikan Tuhan untukmu. Cause… nobody’s perfect, so do you.
Read more about All Saints

