Seperti yang sudah ku ceritakan di Kenapa Aku ke All Saints, aku telah jatuh cinta dengan gerejaku pada saat kebaktian pertama. Romantis amat ya…
Meskipun tanpa kepercayaan diri sama sekali, aku mulai terlibat di beberapa pelayanan (sok bangeeettttt…) seperti choir, dan juga singer. Salah satu keuntungan menjadi anggota choir di sini adalah kami tampil tidak hanya di All Saints, tapi juga di beberapa tempat bertaraf internasional. Pada Natal yang lalu kami bernyanyi di American Club dan ANZA (Australia & New Zealand Association).
Pemain piano favoritku di gereja ini adalah Mrs. Shelley Tahija, seorang dokter dengan talenta yang luar biasa dalam musik. Aku mengagumi penampilannya yang bersahaja, meskipun dari segi ekonomi dia benar-benar diberkati. Dari luar orang mungkin melihatnya sangat cool, beberapa orang bahkan merasa iri dan dengki dengan kemampuan, bakat serta segala materi yang dimilikinya. Tapi menurut hematku, ia hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk melayani Tuhan. Haruskah kita membenci seseorang hanya karena ia diberkati?
Kami memiliki berbagai aktifitas yang menarik seperti piknik, Bible Study, Alpha Course, Women’s / Men’s Breakfast dan masih banyak lagi. All Saints juga mempunyai beberapa Outreach Projects yang membuka kesempatan bagi kami untuk melayani masyarakat di luar gereja.
Salah satu hal yang ku senangi dari gerejaku adalah setelah kebaktian pagi, kami biasanya berkumpul di gazebo untuk menikmati morning tea. Aku senang dengan morning tea, bukan karena bisa makan kue gratis, tapi karena di sinilah kami bisa ngobrol dan mendapatkan teman baru. Hasilnya, aku banyak mendapat teman baik yang sangat menyenangkan, di antaranya Mira (sang sekretaris gereja) dan Ester, tidak kelupaan my loving Uncle Derek and Auntie Neema. Masih ada juga Mr. David and Dinah Ross, (David adalah pelatih choir di gerejaku, Douglas & Nova Horley (mantan guru Inggris-ku), Sarah, Veronica, Renny, Magdalena, Stanley Lee, Suzan. Dari South Jakarta ada Yolanda, Martinktje, Gerda, Johanna, Jubi dan masih banyak lagi nice people yang telah menjadi sahabatku selama menjadi jemaat di sini.
Selain itu, aku juga sudah menjalin persahabatan dengan para pendetaku, yaitu Rev. Dale Appleby dan Rev. Ian Hadfield. Keduanya adalah pendeta asal Australia dengan aksen yang kental dan pengetahuan Theologia yang dahsyat. Terkadang aku melontarkan pertanyaan pada mereka, baik secara lisan maupun lewat email, mengenai hal-hal yang tidak ku mengerti dalam Alkitab. It’s so amazing!!! Umumnya jemaat di sini memanggil para pendeta dengan nama kecil mereka, seperti lazimnya di western countries. Tapi aku, dengan adat istiadat timur, merasa tidak sopan memanggil pendetaku dengan nama kecil mereka. Akhirnya meskipun terdengar aneh bagi sebagian jemaat, aku tetap memanggil pendetaku dengan sebutan Mr. Appleby and Mr. Hadfield.
Beberapa orang Indonesia di sini sering menimbulkan masalah, terutama soal survey yang sebenarnya bertujuan untuk mencari tahu kebutuhan jemaat orang Indonesia yang bisa dibantu oleh gereja, dan juga sebaliknya potensi atau bakat apa yang bisa kami sumbangkan sebagai jemaat. Sebagian dari mereka bahkan menyebarkan gosip, hasutan termasuk ancaman yang sangat keji. Umumnya mereka adalah orang-orang bermasalah yang tidak bisa menghadapi kenyataan. Mereka tidak bisa melihat kelebihan orang lain, selalu merasa iri.
Bahkan di antara mereka ada seorang perempuan separoh baya yang selalu menjadi biang kerok, menghasut sana-sini dan merasa diri paling hebat. Dia selalu membanggakan dirinya sebagai orang yang sudah sering ke luar negeri (terutama ke Australia), bekerja untuk United Nations (alias PBB) menolong anak-anak terlantar, lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, dan segudang hal-hal tidak masuk akal yang membuat kami muak. Jika kami (beberapa anak muda di All Saints) tidak menurutinya, maka kami akan menjadi korban berikut dari gosip dan hasutannya. Dan dia sangat menentangku bergabung dengan choir gereja yang dikatakannya tidak professional. OMG, this old woman is crazy and foolish.
Sebagai manusia, aku ingin menyarankan agar mereka (terutama si wanita tua sinting tadi) tidak diperbolehkan lagi datang ke All Saints. Tapi untunglah para pendeta dan diaken di sini benar-benar menjalankan perintah Tuhan untuk saling mengasihi dan mengampuni. Jadi, orang-orang itu masih tetap diterima dengan baik, meskipun mereka selalu berulah dan membuat kami jengkel. Seorang teman menasihatiku agar mengasihani orang-orang ini, karena mereka sebenarnya perlu ditolong. Masalahnya, mereka juga menolak untuk ditolong, gimana donkkk….???
Orang-orang (terutama orang Indonesia) datang ke gereja ini dengan berbagai maksud dan motivasi. Tapi bagiku aku datang ke gereja ini, karena aku ingin beribadah, aku mencintai gereja ini dengan segala keberadaannya. Aku bahkan menikmati saat-saat sendirian berada di dalam gereja ini tanpa ada seorang pun di situ. Menurutku, itu adalah Rumah Tuhan, dan Dia benar-benar hadir di situ.


Hi my friend,
I am so touched by your writing. I think I know you but I feel sad because I heard that you are going away for a scholarship abroad. I just want you to know how much I appreciate our friendship, also your contribution to All Saints, I also enjoy having joined the choir and as singers. I will miss you a lot, my friend.
I will pray for your success and may God always bless you.
Please keep in touch!
In Jesus,
shelley
Hallo Bu Shelley,
Thanks banget sudah baca blog-ku. Aku merasa sangat diberkati selama berada di All Saint. I’m really blessed and honored to know you and to be your friend. Keep serving the Lord ya, don’t give up, whatever people say. Just focus on Jesus. You have been doing the best for Jesus, and He will repay you with many blessings. Aku sedih juga harus pisah dengan All Saints, terutama singer & choir-nya. I hope I can give good impression for the congregation and ministry.
Keep in touch ya, bu. I pray for all the best things for you. God bless you always!
dream_chaser
[...] have told you before in Gerejaku, All Saints-ku that I have some good friends in this church. There are so many of them, it will take a long time [...]