Minggu pagi yang ceria aku melangkahkan kaki keluar dari kosku yang nyaman, tenang dan permai. Seperti hari-hari Minggu yang lain, aku berangkat menuju gerejaku yang terletak di kawasan Jakarta Pusat. Malam sebelumnya aku pulang sudah larut, mengakibatkan pagi ini aku bangun kesiangan dan tergesa-gesa berangkat ke gereja. Biasanya aku setia pergi dengan menumpang bis kota, tapi melihat jam tanganku sudah menunjukkan 8:45 am, sedangkan kebaktian dimulai tepat jam 9 pagi, maka aku tidak melihat kemungkinan lain kecuali naik taxi pertama yang lewat di depan hidungku.
Untunglah Tuhan yang maha baik mengirimkan sebuah taxi yang cukup bagus dan murah untuk ku tumpangi. Saat berdiri menunggu taxi aku sudah merasakan getaran di tasku, tandanya ada SMS yang masuk. Jadilah begitu aku membuka handphone, aku mendapati SMS dari temanku yang sedikit terganggu otaknya karena terlalu lama tinggal di pedalaman Salayar. Isna, peserta CCSIP dari Makassar, si sinting yang menjadi soul-mate di PDO kemarin, memberitahuku bahwa dia sudah ada di Jakarta, karena besok Senin mau interview visa di US Embassy.
Isna memintaku untuk datang ke Hotel Sofyan di mana dia bersama Ade (peserta CCSIP dari Balikpapan) menginap. Katanya mereka bingung mencari alamat studio foto yang diberikan AMINEF, yang bisa menghasilkan pasfoto seperti yang diminta US Embassy. Akhirnya aku menyetujui menemani mereka siang itu, dengan syarat mereka mau menunggu karena aku masih harus mengikuti kebaktian terlebih dahulu.
Sekitar pukul 10:30 di pagi hari yang terik, kebaktian selesai. Anggota jemaat gerejaku ini umumnya expat (nanti di postingan selanjutnya akan ku ceritakan tentang gerejaku), dan aku mengenal seorang wanita Amerika berbadan besar yang menaruh simpati padaku ketika mengetahui tentang beasiswa yang ku terima. Aku bermaksud mengobrol sebentar dengannya sebelum menghadiri acara lunch, memenuhi undangan dari Pak Pendeta. Tapi ternyata Suzan (nama wanita Amerika tsb) begitu menikmati berbagi informasi tentang Amerika denganku, akibatnya kami ngobrol sampai lupa waktu dan aku terlambat muncul di rumah Pendeta.
Untunglah Pak Dale, Pendeta yang bertugas di gerejaku sangat murah hati. Sambil tersenyum ia menyambutku dengan ramah dan langsung menyuruhku menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tapi begitu aku hendak memasukkan suapan pertama ke mulut, aku segera menyadari bahwa aku telah menjadi pusat perhatian tamu2 yang lain, karena ternyata semuanya sudah selesai makan dan tinggal aku sendiri yang dengan tidak tahu malunya menikmati makan siang di situ. OMG….!!!
Setelah menikmati makan siang di rumah Pak Pendeta, aku bergegas menelpon Isna sekaligus say sorry karena keterlambatanku. Selepas mengucapkan terima kasih pada Pendeta, aku segera lari keluar dari halaman gereja untuk mencegat bajaj yang paling beruntung mendapatkanku sebagai penumpangnya.
Sebuah bajaj berhenti tepat di depanku. Aku menyebutkan tujuanku, anehnya si abang bajaj menanyakan “Sofyan Betawi atau Sofyan Cikini, neng?” Dengan pede-nya aku menjawab “Cikini!”
Si abang bajaj mengantarku ke sebuah hotel yang tidak begitu besar. Setelah membayar ongkos, aku melangkah masuk ke hotel. Kepada receptionist aku menyebutkan dengan sedikit angkuh “kamar 535″. Aku terkejut ketika si receptionist menjawab “di sini nggak ada kamar 535″. Astaga… betapa malunya diriku, ternyata aku salah hotel. Ternyata si Sinting dari Makassar itu menginap di hotel Sofyan Betawi.
Wakakakkakaa…
makanya bu.. malu bertanya jalan2 deh.. hiihihihiih… Piss
Iya deh, gw tobaattttt….